LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN KEANEKARAGAMAN FAUNA TANAH DENGAN METODE LIGHT TRAP DI AREA WISATA TAMAN ALAM BUKIT TANGKILING

Start here

Advertisements

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN KEANEKARAGAMAN FAUNA TANAH DENGAN METODE LIGHT TRAP DI AREA WISATA TAMAN ALAM BUKIT TANGKILING

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI HEWAN

KEANEKARAGAMAN FAUNA TANAH

DENGAN METODE LIGHT TRAP

DI AREA WISATA  TAMAN ALAM BUKIT TANGKILING

 

 

Di Susun Oleh

ANANG ARIA

0901140132

Dosen pembimbing:

RITA SUKAESIH, S.Pd, M.Si

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI  TADRIS BIOLOGI

PALANGKA RAYA2012

 

       I.            Topik Praktikum

Adapun topik praktikum kali ini adalah keanekaragaman Fauna Tanah dengan Metode Light Trap.

    II.            Tujuan praktikum

Untuk mengetahui kemelimpahan, keanekaragaman  jenis dan jumlah insekta malam dikawasan taman alam bukit tangkiling.

 III.            Dasar teori

Insekta merupakan kelompok binatang yang terbesar di dunia, kira-kira lebih dari 1.000.000 spesies yang telah ditemukan dan diberi nama. diperkirakan masih ada 1.000.000 spesies lagi yang masih perlu diberi nama (Winarno, 1982).

Kelompok hewan ini menarik untuk diamati karena selain jenisnya cukup banyak juga perannya dalam kehidupan. Menurut Harahap (1994) di dalam ekosistem baik alami maupun buatan insekta dapat memainkan berbagai peranan penting antara lain : pemakan tumbuhan, parasitoid dan predator pada insekta lain, parasit pada hewan lain, pengurai, penyebukan serta penghasil bahan-bahan berguna bagi manusia.

Menurut Soemarwoto, J. et al (1990) semua organisme mempunyai tingkah laku iritabilitas yaitu daya menanggapi, agaknya merupakan salah satu sifat utama makhluk hidup. Daya ini memungkinkan organisme menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, betapapun sederhananya organisme tadi.

Rangsangan dalam bentuk cahaya akan mempengaruhi kegiatan insekta malam. Cahaya juga memberikan informasi vital tentang lingkungannya kepada binatang (Cromer, A.H, 1994).

Insekta adalah makhluk hidup yang paling banyak di dunia, karena itu tak mengherankan bila dimanapun kita berada hampir selalu menemukan mereka. Banyak jenis diantara insekta yang merupakan pengganggu di lingkungan kita akan tetapi tidak sedikit pula yang menguntungkan (Kuncoro, 1984).

Menurut Yasin (1984) insekta merupakan invertebrata yang hidup di tempat kering dan dengan sayapnya dapat terbang, kemampuan terbang menolong insekta dalam mencari makan, bertemu lawan jenis dan dapat menghindarkan diri dari musuh.

Tubuh insekta yang kecil juga memberikan keuntungan yang besar sebab dengan tubuhnya yang kecil mereka dapat mengirit makanan. Sebutir gula-gula sudah mampu menghidupi sekelompok smeut. Keuntungan yang lain adalah insekta mampu berkembangb biak (reproduksi) dengan cepat dan kebanyakan dari mereka mempunyai siklus hidup yang pendek (Putra, 1994).

keanekaragaman spesies merupakan karakter komunitas yang penting dan banyak dibicarakan secara mendalam dari segi konsep maupun teknik aplikasinya di lapangan. Di dalam habitat alam hidup berbagai jenis hewan yang masing-masing jenis terdiri atas cacah individu yang antara satu kelompok spesies dengan spesies lainnya berbeda.  Jumlah jenis hewan ini tidak dapat sebagai keanekaragaman, karena keanekaragaman tidak hanya mempertimbangkan beberapa jumlah spesies penyusun komunitas, namun juga cacah individu masing-masing spesies dalam unit komunitas. Dengan demikian keanekaragaman merupakan kombinasi dari kekayaan spesies dan kemerataan spesies.

Hubungan antara kepentingan spesies secara umum menunjukan korelasi negatip artinya komunitas akan mengandung sedikit spesies, dengan jumlah individu yang besar, dan sebaliknya pada komunitas yang mempunyai banyak spesies, masing spesies dengan cacah individu kecil. Kenekaragaman cenderung akan rendah apabila pada ekosistem yang secara fisik atau mendapatkan tekanan lingkungan dan akan cenderung tinggi pada ekosistem yang dibatasi, atau diatur faktor-faktor biotik.

Tidaksemuahewandalamsuatukomunitasbiotikindividupopulasinyadapatdihitungataukerapatanpopulasinyadapatdiukur.Dalamhalinipengetahuanmengenaikelimpahandalamkerapatanrelatifsudahcukup, meskipunbesarpopulasi yang sebenarnyatidakkitaketahuinamungambaranmengenaikelimpahanpopulasi yang berupasuatuindekssudahdapatmemberikaninformasimengenaibanyakhal.Misalnyamengenaiberubah-ubahnyapopulasihewan di suatu area padawaktu yang berbedaatauberbeda-bedanyapopulasi-populasihewanpada area ataukomunitas yang berbeda.Teknikdanpenentuanindekskelimpahanitubanyaksekalimacamnyatergantungdarispesieshewanberikutkekhasanprilakunyasertamacam habitat yang ditempatinya.Kehidupan hewan tanah maupun hewan lainnya sangat tergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan di suatu daerah sangat ditentukan keadaan daerah itu. Dengan perkataan lain keberadaan dan kepadatan suatu populasi suatu jenis hewan di suatu daerah sangat tergantung dari faktor lingkungan,yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik.

Faktor lingkungan abiotik secara besarnya dapat dibagi atas faktor fisika dan faktor kimia. Faktor fisika antara lain ialah suhu, kadar air, porositas dan tekstur tanah. Faktor kimia antara lain adalah salinitas, pH, kadar organik tanah dan unsur-unsur mineral tanah. Faktor lingkungan abiotik sangat menentukan struktur komunitas hewan-hewan yang terdapat di suatu habitat.

Faktor lingkungan biotik bagi hewan tanah adalah organisme lain yang juga terdapat di habitatnya seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan golongan hewan lainya. Pada komunitas itu jenis-jenis organisme itu saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Interaksi itu bisa berupa predasi, parasitisme, kompetisi dan penyakit. Dalam studi ekologi hewan tanah, pengukuran faktor lingkungan abiotik penting dilakukan karena besarnya pengaruh faktor abiotik itu terhadap keberadaan dan kepadatan populasi kelompok hewan ini. Dengan dilakukannya pengukuran faktor lingkungan abiotik, maka akan dapat diketahui faktor yang besar pengaruhnya terhadap keberadaan dan kepadatan populasi hewan yang di teliti. Tidak pula dapat dipungkiri, bahwa dalam mempelajari ekologi hewan tanah perlu diketahui metode-metode pengambilan contoh di lapangan karena hewan itu relatif kecil dan tercampur dengan tanah.

Pada suatu perkebunan, insekta bisa datang sendiri untuk mencari makan, tetapi kehadirannya itu dapat pula terbawa oleh hewan lain seperti burung. Pada mulanya memasang jumlahnya sedikit kemudian menjadi besar manakala kondisi lingkungan sesuai dengan yang diinginkan insekta tadi ( Anonim, 1989 ).

Menurut Soemarwot, J. et al ( 1990 ) semua organism mempunyai tingkah laku iritabilitas yaitu daya menanggapi, agaknya merupakan salah satu sifat utama makhluk hidup. Daya ini memungkinkan organisme menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, betapa pun sederhananya organisme tadi. Rangsangan dalam bentuk cahaya akan mempengaruhi kegiatan insekta malam. Cahaya juga memberikan informasi vital tentang lingkungannya kepada binatang ( Cromer, A.H, 1994 ). Insekta adalah makhluk hidup yang paling banyak di dunia, karena itu tak mengherankan bila dimanapun kita berada hamper selalu menemukan mereka. Banyak jenis diantara insekta yang merupakan pengganggu di lingkungan kita akan tetapi tidak sedikit pula yang menguntungkan ( Kuncoro, 1984 ). Menurut Yasin ( 1984 ) insekta merupakan invertebrata yang hidup di tempat kering dan dengan sayapnya dapat terbang, kemanpuan terbang menolong insekta dalam mencari makan, bertemu lawan jenis dan dapat menghindarkan diri dari musuh. Tubuh insekta yang kecil juga memberikan keuntungan yang besar sebab dengan tubuhnya yang kecil mereka dapat mengirit makanan. Sebutir gula-gula sudah mampu menghidupi sekelompok semut. Keuntungan yang lain adalah insekta mampu berkembang biak ( reproduksi ) dengan cepat dan kebanyakan dari mereka mempunyai siklus hidup yang pendek ( Putra, 1994 ).

 

 

 

 IV.            Alat Dan Bahan

  1. Alat

Tabel 1. Alat yang digunakan pada praktikum

No

Alat

Jumlah

1 Baskom atau ember 1 buah
2 Lampu kapal 1 buah
3 Toples kecil 5 buah

 

  1. Bahan

Tabel 2. Bahan yang digunakan pada praktikum

No

Bahan

Jumlah

1 Air Secukupnya
2 Alkohol 70 % 200 Ml
3 Deterjen Secukupnya

 

    V.            Prosedur kerja

Adapun langkah dalam praktikum pada kali ini yaitu:

  1. Menentukan tempat pengambilan sampel atau daerah yang cocok dan banyak tumbuhannya.
  2. Memasang alat perangkap yang sudah dibuat dan meletakanya di bawah sinar cahaya lampu Tembok mulai pukul 18.00 dan mengambil hasil pencuplikan pukul 21.00 Wib.
  3. Mengamati serangga malam yang terjebak
  4. Mencatat data yang dihasilkan dalam tabel pengamatan

 

 

 VI.            Data Hasil Pengamatan

Tabel 3. Data Hasil Pengamatan hewan Malam metode Light  Trap Hewan Malam

NO

SPESIES

JUMLAH

1

Nyamuk

3

2

laron

10

3

buntut panjang

2

4

serangga kecil

16

5

Ngengat

1

Jumlah

32

diketahui

1

Dominansi Spesies

2

Indeks Keanekaragaman Shannon-Winner
a. Nyamuk
D  = ∑ (ni/N)2                                                                  H’ = -∑ pi log pi
     = (3/32)²      = -∑ 0,0081 log 0,0081
     = (0,09)²      = -∑ 0,0081 . – 2,091
     = 0,0081      = 0,0169
Kriteria Rendah
b. laron
D  = ∑ (ni/N)2                                                                  H’ = -∑ pi log pi
     = (10/32)²      = -∑ 0,0961 log 0,0961
     = (0,32)²      = -∑ 0,0961 . – 1,017
     = 0,0961      = 0,0977
Kriteria Rendah
c. “buntut panjang”
D  = ∑ (ni/N)2                                                                  H’ = -∑ pi log pi
     = (2/32)²      = -∑ 0,0036 log 0,0036
     = (0,06)²      = -∑ 0,0036 . – 2,4436
     = 0,0036      = 0,0087
Kriteria Rendah
d. “serangga kecil”
D  = ∑ (ni/N)2                                                                  H’ = -∑ pi log pi
     = (16/32)²      = -∑ 0,25 log 0,25
     = (0,05)²      = -∑ 0,25 . – 0,60206
     = 0,25      = 0,15
Kriteria Rendah
e. “ngengat”
D  = ∑ (ni/N)2                                                                  H’ = -∑ pi log pi
     = (1/32)²      = -∑ 0,0009 log 0,0009
     = (0,03)²      = -∑ 0,0009 . – 3,0457
     = 0,0009      = 0,0027
      Kriteria Rendah

 

  1. VII.            Pembahasan

Dari hasil pengamatan yang sudah dilakukan menggunakan metode Light Trapmengunakan lampu kapal/ Lampu Tembok yang dilengkapi oleh ember yang diisi air pada bagian bawah Lampu sebagai wadah perangkap hewan yang mendekati lampuagar tidak bisa terbang kembali, kami menemukan 5 jenis spesies serangga malam yang terperangkap di dalam jebakan yang telah kami buat.

Dari hasil pengamatan ini kami mendapatkan data, yaitu pada spesies nyamuk berjumlah 3 ekor, laron berjumlah 10 ekor, “buntut panjang” berjumlah 2 ekor, “serangga kecil” berjumlah 16 ekor, ngengat bejumlah 1 ekor. Sedangkan hasil jenis hewan yang paling banyak kami peroleh yaitu pada spesies “serangga kecil”, Setelah dilakukan perhitungan mengenai kelimpahan dengan menggunakan indeks keanekaragaman shanon winner adalah 0,15dan nilai indeks dominansinya adalah 0,25hal ini bisa di  katakan persebaran “serangga kecil” ini mempunyai indeks tertinggi, namun masih dalam kriteria keanekaragaman rendah mengapa demikian karena hanya serangga-serangga kecil saja yang dapat bertahan hidup dilingkungan atau suatu daerah yang sempit, berbeda dengan hewan-hewan yang lebih besar tubuhnya dan serangga yang lainnya.

Faktor lain yang menyebabkan serangga kecil lebih banyak dibandingkan dengan hewan lainnya yaitu bahwa semua jenis serangga yang terjebak adalah jenis serangga yang tertarik pada cahaya lampu dan cahaya lampu tersebut membuat hewan-hewan ini mendekat dan akhirnya terjebak di dalam eber yang sudah di rendami air agar hewan tersebut tidak bisa terbang kembali, pada saat meletakan lampu kapal menggunakan batang pohon dan juga suasana cuaca pada saat melakukan praktikum harinya mendung mau turun hujan,kemungkinan besar cuaca yang mendung sangat disukai oleh serangga kecil untuk keluar mencari makanan, perlu diketahui bahwa serangga kecil banyak yang memilih bersarang di tanah, ada yang di celah-celah kayu, ada pula yang di antara dedaunan pohon. Dan ada semut yang aktif di malam hari sehingga dengan mudah serangga hewan terperangkap pada jebakan Lighttrap, dan ada pula yang aktif di siang hari.

Dengan adanya perbedaan strategi hidup ini maka banyak juga sipat, prilakun dan adaptasinya, misalnya spesies-spesies semut dapat berbagi sumber daya lingkungannya.

Hasil pengukuran terhadap parameter lingkungan menunjukkan bahwa pada setiap jebakan parameter yang diukur tidak jauh mengalami perbedaan, ini terjadi karena kawasan yang menjadi lokasi penempatan jebakan lokasinya tidaklah berjauhan.

 

 

 

 

  VIII.     Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil pengamatan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa:

  • Kami menemukan 5 spesies serangga dan seranggayang lebih dominan yaitu “Serangga Kecil” dengan Indeks Dominansi 0,25 dan Indeks Keanekaragaman Shanoon winner 0,15.Sedangkan jenis spesies yang paling resisten adalah Ngengat dengan nilai indeks Dominansi sebesar 0,0009 dan Indeks Keanekaragaman Shanoon Winner sebesar 0,0027.
  • Hewan malam “serangga” akan terperangkap Light Trap karena hewan-hewan tersebut mendekati cahaya.

 IX.            Saran

Berhati-hatilah ketika menggunakan lampu agar tidak terjadi kebakaran dan gunakan pinset untuk menganmbil hewan yang terperangkap di air pada ember.

 

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agus Darman, dkk, 2005, Ekologi Hewan, Universitas Negeri Malang (UM PRESS), Malang.

Anonimous. 2009. http://www.uky.edu/Ag/Entomology/ythfacts/4h/unit2/hotm&ult.htm Di unduh  tanggal 18 mei 2011.

Gatto, jonathan. 2009. http://www.designwarrior.net/light-trap-lamps-jonathan-gatto-and-mike-thompson/  Di unduh  tanggal 18 mei 2011.

Resosoedarmo, Soedjiran, 1990, Pengantar Ekologi, PT Remaja Rosdakarya, Jakarta.

Sukaesih Rita, Petunjuk Praktikum Ekologi Hewan. Palangka Raya. 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

pedoman ITEMAN

ITEMAN (Item and Test Analysis) merupakan analisis butir empirik model klasik. Anda dapat mendownloadnya di sini. Setelah didownload kemudian anda extract dan simpan dalam folder tersendiri, misalkan anda beri nama ANABUT (Analisis Butir).

Untuk menganalisis soal objektif bentuk pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban, langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Buka program Notepad dan masukkan data hasil tes yang akan dianalisis, kemudian simpan dalam satu folder ANBUT bersama program ITEMAN.exe. Misalkan data yang baru selesai dimasukkan itu diberi nama CONTOH-1.TXT

    Keterangan:

    1. 005 adalah jumlah butir soal (maks 250 butir)
    2. o (omit) adalah jawaban kosong
    3. N adalah butir soal yang belum dikerjakan (Not respon)
    4. 06 adalah jumlah identitas siswa (maks 80)
    5. DCABB adalah kunci jawaban soal nomor 1 sampai nomor 5
    6. 44444 adalah jumlah pilihan jawaban (A, B, C, dan D)
    7. yyyyy adalah Y=Yes untuk butir soal yang dianalisis. Ketik nnnnn untuk butir soal yang tidak dianalisis (n adalah N=No)
    8. o1 adalah nomor peserta tes, BADCC adalah jawaban peserta tes, dan seterusnya.
  • Jalankan program ITEMAN, kemudian isilah pertanyaan-pertanyaannya:
    1. Enter the name of the input file: ketik nama file yang akan dianalisis, misalnya CONTOH-1.TXT lalu tekan ENTER
    2. Enter the name of the output file: ketik nama file output (hasil) yang dikehendaki, misal HASIL-1.TXT lalu tekan ENTER
    3. Do you want the score written to a file?: ketik Y bila dikehendaki hasil analisis direkam, ketik N bila hasil analisis tidak direkam.
    4. Bila diketik Y maka akan muncul Enter the name of the score file: ketik nama file untuk hasil skor, misal SKOR-1.TXT lalu tekan ENTER
    5. Dalam waktu beberapa detik, akan muncul tampilan:

 

 

Statistik Butir Soal

  • Atau,

Buka file HASIL-1.TXT menggunakan program Notepad, maka akan muncul tampilan seperti di atas.

Kelebihan program ini salah satunya adalah adanya tanda bintang (*) pada hasil analisis. Sehingga guru atau pengguna mudah membedakan antara kunci jawaban dengan opsi pengecoh. Pada contoh di atas, kunci jawabannya adalah DCABB.

Tanda tanya (?) pada option jawaban menunjukkan bahwa option tersebut dipilih oleh banyak siswa, padahal bukan kunci jawaban. Cek kembali kunci jawaban yang ada.

Keterangan Statistik Butir Soal:

  1. Seq. No adalah nomor urut butir soal
  2. Scala-Item adalah nomor urut butir soal dalam tes/instrumen
  3. Pop_Correct adalah proporsi peserta tes yang menjawab benar butir tes soal
  4. Biser adalah indek daya beda butir soal dengan menggunakan koefisien korelasi biserial. Nilai positif menunjukkan bahwa peserta tes menjawab benar butir soal, mempunyai skor yang relatif lebih tinggi dalam tes tersebut. Untuk statistik pilihan jawaban (alternatif) korelasi biserial negatif sangat tidak dikehendaki untuk kunci jawaban.
  5. Poin biserial indek daya beda butir soal dengan menggunakan oefisien korelasi point-biserial. Keterangan selanjutnya sama dengan yang ada pada Biser.

Keterangan Statistik Tes:

Statistik Tes

  1. N of Item adalah jumlah butir soal
  2. N of Examinees adalah jumlah peserta tes
  3. Mean adalah skor rerata peserta tes
  4. Variance adalah varian dari distribusi skor peserta tes yang memberikan gambaran tentang sebaran skor peserta tes.
  5. Std.dev. adalah standar deviasi dari distribusi skor peserta tes
  6. Skew adalah kemiringan distribusi skor peserta tes. Juling negatif menunjukkan bahwa sebagian besar skor berada di bagian ata (skor tinggi) dari distribusi skor, dan sebaliknya.
  7. Kurtosis adalah puncak distribusi skor yang menggambarkan kelandaian distribusi skor peserta tes dibanding dengan distribusi normal. Nilai positif menunjukkan distribusi lancip, dan nilai negatif menunjukkan distribusi yang lebih landai (merata). Kurtosis untuk distribusi normal adalah nol.
  8. Alpha adalah koefisien reliabilitas alpha untuk tes tersebut.
  9. SEM (Standard Error of Measurement) adalah kesalahan baku pengukuran untuk setiap tes.
  10. Mean P adalah rata-rata tingkat kesukaran semua butir soal dalam tes secara klasikal dihitung dengan cara mencari rata-rata proporsi peserta tes yang menjawab benar untik semua butir dalam soal tes tersebut.
  11. Mean Item-Tot adalh nilai rata-rata indeks daya beda dari semua butir dalam tes yang diperoleh dengan menghitung nilai rata-rata point biserial dari semua butir dalam tes/skala.
  12. Mean Biserial aadalah nilai rata-rata indeks daya beda dari semua butir dalam tes yang diperoleh dengan menghitung nilai rata-rata biserial dari semua butir dalam tes/skala      

makalah statistik distribusi frekuensi

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

 

Statistik memegang peran penting dalam penelitian,baik dalam penyusunan model,perumusan hipotesa dalam pengembangan alat dan instrumen  pengumpulan data,dalam penyusunan desain penelitian ,dalam penentuan sampel dan dalam analisa data.dalam bayak hal ,pengolahan dan analisa datya tidak luput dari penerapan tehnik dan metode statistik tertentu ,yang mana kehadiranya dapat memberikan dasar bertolak  dalam menjelaskan hubungan-hubungan yang terjadi.statistik dapat digunakan sebagai alat untuk memgetahui apakah hu bungan kualitas antara dua atau lebih variabel benar-benar terkait secara benar dalam suatu kualitas empiris atau hubungan tersebut hanya bersifat random atau kebetulan saja.

Di dalam statistik deskriptif kita selalu mengusahakan agar data dapat disajikan dalam bentuk yang lebih berguna, lebih mudah dipahami dan lebih cepat dimengerti. Jika data yang ada hanya sedikit, kita tidak mengalami kesulitan untuk membaca dan mengerti angka-angka itu, tetapi apabila data yang tersedia banyak sekali jumlahnya, maka untuk mengerti data tersebut kita akan mengalami kesulitan. Untuk memudahkannya data harus disusun secara sistematis atau teratur kedalam distribusi frekuensi

 

 

  1. B.     Rumusan Masalah

 

Berdasarkan dari uraian di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :

  1. Apa pengertian distribusi prekuensi ?
  2. Cara membuat Tabel Distribusi Frekuensi  ?
  3. Macam-macam Distribusi Frekuensi ?

 

  1. C.    Tujuan

 

Adapun yang menjadi tujuan dalam makalah ini adalah :

  1. Untuk mengetahui distribusi Frekuensi
  2. Untuk mengetahui cara membuat Tabel Distribusi Frekuensi
  3. Untuk mengetahui macam-macam Distribusi Frekuensi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB II

DISTRIBUSI FREKUENSI

 

  1. A.  Pengertian Distribusi frekuensi

Distribusi frekuensi adalah pengelompokan data ke dalam beberapa kelompok (kelas) dan kemudian dihitung banyaknya data yang masuk kedalam tiap kelas. Distribusi frekuensi merupakan salah satu bentuk klasifikasi data, yaitu klasifikasi data secara kuantitatif.

Di dalam statistik deskriptif kita selalu mengusahakan agar data dapat disajikan dalam bentuk yang lebih berguna, lebih mudah dipahami dan lebih cepat dimengerti. Jika data yang ada hanya sedikit, kita tidak mengalami kesulitan untuk membaca dan mengerti angka-angka itu, tetapi apabila data yang tersedia banyak sekali jumlahnya, maka untuk mengerti data tersebut kitaakan mengalami kesulitan. Untuk memudahkannya data harus disusun secara sistematis atau teratur kedalam distribusi frekuensi.

 

  1. Cara Membuat Tabel Distribusi Frekuensi

Contoh: Penjualan agen tiket PT Garuda per hari dalam jutaan rupiah

21.36

5.45

19.84

29.34

10.85

34.82

19.71

20.84

10.37

22.50

32.50

18.40

22.49

17.50

12.25

11.50

33.55

19.87

20.63

6.12

12.72

24.15

36.90

23.81

18.25

26.70

24.25

31.12

7.83

11.95

17.35

33.82

26.43

12.73

8.89

19.50

17.84

26.42

22.50

5.57

24.97

37.81

27.16

23.35

25.15

34.75

13.84

23.05

14.67

24.81

15.95

27.48

21.50

16.44

24.61

10.00

27.49

17.75

31.84

18.75

26.80

21.75

28.40

22.46

24.76

15.10

23.11

30.26

16.30

18.64

9.36

17.89

17.45

28.50

13.52

21.50

14.59

14.59

29.30

29.65

 

  1. Menentukan Jumlah Kelas

K = 1 + 3,3 log n

= 1 + 3,3 Log 80

= 7,28 ———Ø 7

  1. Mencari Range

Nilai Terkecil  : 5,45

Nilai Terbesar : 37,82

Range = Nilai terbesar – Nilai terkecil

= 37,82 – 5,45

= 32,37 ………..Ø 32

  1. Menentukan Panjang Kelas

Panjang Kelas = Range / Jumlah Kelas

= 32/7

= 4,57 …………….Ø 5

  1. Menentukan Kelas
Kelas Penjualan

(Dalam Jutaan Rp)

Kelas I 5 – 9,99
Kelas II 10 – 14,99
Kelas III 15 – 19,99
Kelas IV 20 – 24,99
Kelas V 25 – 29,99
Kelas VI 30 – 34,99
Kelas VII 35 – 39,99

 

  1. C.  Macam-Macam Distribusi Frekuensi

Distribusi frekuensi ada beberapa macam, diantaranya:

  1. Ditinjau dari jenisnya
    1. Distribusi frekuensi numerik
    2. Distribusi kategorikal
    3. Ditinjau dari nyata tidaknya frekuensi
      1. Distribusi frekuensi absolut
      2. Distribusi frekuensi relatif
      3. Ditinjau dari kesatuannya
        1. Distribusi frekuensi satuan
        2. Distribusi frekuensi kumulatif

 

 

  1. 1.      Distribusi frekuensi numerik dan kategorikal

Distribusi frekuensi numerik adalah Distribusi frekuensi yang didasarkan pada data-data kontinum yaitu data yang berdiri sendiri dan merupakan suatu deret hitung, sedangkan yang dimaksud dengan Distribusi frekuensi kategorikal adalah Distribusi frekuensi yang didasarkan pada data-data yang terkelompok. Jika data masih berbentuk kontinum, maka harus diubah lebih dahulu menjadi data kategorikal dan selanjutnya beru dicari frekuens masing-masing kelompok.

Contoh:

Penelitian terhadap nilai pembaca S1 Jurusan Teknik Informatika untuk mata kuliah statistik pada suatu perguruan tinggi. Dari hasil pengambilan sampel secara random(acak) terambil sampel sebanyak 30 nilai statistik.

Dari sampel tersebut diperoleh data dengan penyebarannya sebagai berikut:

75

80

30

70

20

35

65

65

70

57

55

25

58

70

40

35

36

45

40

25

15

55

35

65

40

15

30

30

45

40

 

Pada contoh diatas merupakan contoh Distribusi frekuensi numerik. Mengingat Distribusi frekuensi numerik didasarkan padadata apa adanya maka ada kemungkinan daftar Distribusi akan panjang (terutama untuk data yang mempunyai rentangan panjang). Jika hal ini terjadi maka usaha yang semula bertujuan mempermudah dalam membaca data melalui penyusunan distribusi frekuensi tidak akan tercapai. Hal ini disebabkan karena daftar distribusi masih panjang yang berkemungkinan besar masih mengacaukan pembaca. Untuk mengatasi masalah tersebut dibuatlah distribusi frekuensi kategorikal yaitu data yang sudah dikelompokkan seperti tabel dibawah ini:

Nilai

F

15-25

5

26-36

7

37-47

6

48-58

4

59-69

3

70-80

5

30

Perubahan data numerik ke data kategorikal harus menggunakan aturan-aturan tertentu, itu berarti bahwa pengelompokkan tersebut harus memuat aturan-aturan tertentu, sehingga tidak akan terjadi suatu rentangan atau kelompok yang tidak berfrekuensi.

Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kelas bagi distribusi frekuensi kategorikal:

  1. Jumlah kelas
  2. Lembar kelas
  3. Batas kelas

Jumlah kelas

Tidak ada aturan umum yang menentukan jumlah kelas. H.A. Sturges pada tahun 1926 menulis artikel dengan judul: “The Choice of a Class Interval” dalam Journal of the American Statistical Association, yang mengemukakan suatu rumus untuk menentukan banyaknya kelas sebagai berikut:

K = 1 + 3,3 log n

Dimana:

K = banyaknya kelas

n = banyaknya nilai observasi

rumus ini disebut Kriterium Sturges dan merupakan suatu perkiraan tentang banyaknya kelas. Misalnya data dengan n = 100, maka banyaknya kelas K adalah sebagai berikut:

K = 1 + 3,3 (2) = 1 + 6,664 = 7,644 – 8

Jadi jumlah kelas/kelompok yang dianjurkan pada data di atas adalah 8.

Ada kemungkinam jumlah kelompok hasil perhitungan rumus di atas merupakan pecahan, tetapi di sini untuk memudahkannyakita akan melakukan pembualatan. Langkah berikutnya adalah mencari rentangan (interval) tiap kelas.


 

Lebar kelas atau interval

Disarankan interval atau lebar kelas adalah sama untuk setiap kelas. Pada umumnya, untuk menentukan besar kelas (panjang interval) digunakan rimus:

Dimana:

c = lebar kelas

k = banyaknya kelas

= nilai observasi terbesar

= nilai observasi terkecil

nilai

F

48-54

1

55-61

2

62-68

7

69-75

12

76-82

7

83-89

3

90-6

2

34

 

Nilai 48-54 disebut kelas interval. Urutan kelas interval disusun mulai data terkecil hingga terbesar. Urutan kelas interval pertama adalah 48-54, dan urutan kelas unterval kedua  adalah 55-61, demikian seterusnya. Semua kelas interval berada di kolom sebelah kiri. Sedangkan nilai yang berada disebelah kanan adalah nilai frekuansi yang disingkat f. f = 1 berarti yang mempunyai nilai antara 48 sampai 58 sebanyak 1. Nilai-nilai dikiri kelas interval (48,55,62,69,76,83,90) disebut batas bawah kelas. Nilai 48 disebut batas bawah kelas pertama, nilai 55 disebut batas bawah kelas kedua, dan sterusnya. Sedangkan nilai-nilai yang di kanan kelas interval (54,61,68,75,82,89,96) disebut batas atas kelas.

Selisih positif antara batas bawah dengan batas atas harus sama yang disebut lebar kelas.

Misalnya kita memiliki data terbesar 95 dan data terkecil 10 dengan jumlah kelas 9, maka di dapat:

Pembulatan pada penentuan interval sebaiknya ke atas, walaupun angka di belakang koma kecil, karena pembulatan kebawah akan menanggung resiko yaitu ada data yang tidak masuk dalam kelompok yang telah ditentukan.

Batas kelas

Batas kelas bawah menunjukkan kemungkinan nilai data terkecil pada suatu kelas. Sedangkan batas kelas atas mengidentifikasi kemungkinan nilai terbesar dalam suatu kelas.

Contoh:

Berikut ini adalah data tenteng nilai pembaca:

48

50

37

43

51

52

47

48

48

41

42

45

48

37

53

52

51

48

43

41

Jawab

  • Langkah 1 urutkan data dari yang terkecil hinga yang terbasar

37

37

41

41

42

43

43

45

47

48

48

48

48

48

50

51

51

52

52

53

  • Langkah 2 tentukan nilai max dan min

Nilai max = 53 dan nilai min = 37

  • Langkah 3 tentukan range (selisih nilai max dan min)

Range = 53-37=16 (kelas interval harus mampu menampung semua data observasi)

  • Langkah 4 tentukan jumlah kelas dengan menggunakan rumus sturges

k = 1 + 3,3 log n

= 1 + 3,3 log 20 = 1 + 3,3 * 1,3 = 5,29  — 5

  • Langkah 5 tentukan c (lebar kelas/interval)

 

  • Langkah 6 membuat tabel distribusi frekuensi

Nilai

Frekuensi

37-40

41-44

45-48

49-52

53-56

2

5

7

5

1

 

 

  1. 2.      Distribusi frekuensi absolut dan relative

Distribusi frekuensi absolut adalah suatu jumlah bilangan yang menyatakan banyaknya data pada suatu kelompok tertentu. Distribusi ini disusun berdasarkan data apa adanya, sehingga tidak menyulitkan peneliti dalam membuat distribusi ini.Sedangkan Distribusi frekuensi relatif adalah suatu jumlah persentase yang menyatakan banyaknya data pada suatu kelompok tertentu. Dalam hal ini pembuat distribusi terlebih dahulu harus dapat menghitung persentase pada masing-masing kelompok. Distribusi akan memberikan informasi yang lebih jelas tentang posisi masing-masing bagian dalam keseluruhan, karena kita dapat melihat perbandingan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.walaupun demikian kita masih belum memperoleh gambaran yang jelastentang penyebab adanya perbedaan tersebut. Berikut adalah rumus mencari Distribusi frekuensi relatif:

 

 

Tabel frekuensi relatif dan frekuensi kumulatif

X

f

fr

fk*

fk**

X1

f1

f1/n*100

f1

f1+f2+…+fi+…+fk

X2

f2

f2/n*100

f1+f2

f2+…+fi+…+fk

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Xi

fi

fi/n*100

f1+f2+…+fi

fi+…+fk

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Xk

fk

fk/n*100

f1+f2+…+fi+…+fk

fk

 

Contoh:

Dari soal diatas didapat frekuensi relatifnya adalah:

 

nilai

Frekuensi

(2/20)*100

Frek. Relatif

37-40

2

10

41-44

5

25

45-48

7

35

49-52

5

25

53-56

1

5

total

20

 

Contoh lain:

Data pengukuran tinggi badan atas 100 orang. Setelah dilakukan penyederhanaan data(tinggi badan dikelompokkan menjadi 7 kelompok/kelas), maka distribusi frekuensi absolut dan relatif dapat dikihat pada tabel dibawah ini:

Tinggi badan(cm)

Frekuensi

(5/100)*100%

Frek. Relatif

150-154

5

5

155-159

10

10

160-164

25

25

165-169

30

30

170-174

19

19

175-179

8

8

180-184

3

3

Total

100

100

 

  1. 3.      Distribusi frekuensi satuan dan kumulatif

Distribusi frekuensi Satuan adalah frekuensi yang menunjukan berapa banyak data pada kelompok tertentu. Contoh-contoh Distribusi frekuensi diatas menunjukkan Distribusi frekuensi satuan, baik yang numerik maupun relatif. Yang dimaksud distribusi frekuensi kumulatif adalah distribusi frekuensi yang menunjukkan jumlah frekuensi pada sekelompok nilai tertentu mulai dai kelompok sebelumnya sampai kelompok tersebut.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat kami simpulkan beberapa hal, yaitu:

  • Distribusi frekuensi adalah pengelompokan data ke dalam beberapa kelompok (kelas) dan kemudian dihitung banyaknya data yang masuk kedalam tiap kelas. Distribusi frekuensi merupakan salah satu bentuk klasifikasi data, yaitu klasifikasi data secara kuantitatif.
  • Langkah-langkah membuat tabel distribusi frekuensi:
  1. Menentukan Jumlah Kelas
  2. Mencari Range
  3. Menentukan Panjang Kelas
  4. Menentukan Kelas
  • Distribusi frekuensi ada beberapa macam, diantaranya:
  1. Ditinjau dari jenisnya
  2. Distribusi frekuensi numerik
  3. Distribusi kategorikal
    1. Ditinjau dari nyata tidaknya frekuensi
    2. Distribusi frekuensi absolut
    3. Distribusi frekuensi relatif
      1. Ditinjau dari kesatuannya
      2. Distribusi frekuensi satuan
      3. Distribusi frekuensi kumulatif

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dajan, Anto. Pengantar Metode Statistik jilid I, PT. Perdja. Jakarta: 1985

Meilia N. I. Susanti. S.T. M.Kom, Statistika Deskriptif & induktif , Graha Ilmu, 2010

Prof. Drs. Mangkuatmodjo, Soegyarto. Pengatar Statistik, Rineka Cipta, Jakarta. 1997

Ronald E. Walpole, Pengantar Statistika, Gramedia pustaka Utama, Jakarta, 1995

 

laporan tes kebugaran

  1. I.         TopikPraktikum            : “TesKebugaran
  2. II.      TujuanPraktikum         :
  3. UntukmengetahuiBeratBadan Ideal padamahasiswa
  4. Untukmengetahuidenyutnadisebelumdansesudahkegiatan.
  5. Untukmengetahuikebugaranfisikmahasiswa.
  6. Untukmengetahuitingkatkesehatanmahasiswa
  7. III.   DasarTeori

Kebugaran berasal dari kata bugar yang didefinisikan sebagai suatu keadaan kondisi fisik seseorang dimana ia mampu beradaptasi terhadap pembebanan fisik tanpa kelelahan. Kebugaranjasmanidinyakatandengan CO2 maksimal yang menggambarkanseberapabaikseseorangmengambiloksigendariatmosferkedalamparu-parudankemudiandarah, lalumemompanyamelaluijantungkeotot yang bekerja, dimanaoksigenoksigendigunakanuntukmengoksidasikarbohidratdanlemakuntukmenghasilkanenergi.

Denyutnadidihitungdenganmerabapergelangantanganmengunakanjaritelunjukdanjaritengah.Denyutnadimaksimal yang dapatdicapaiadalah220 minus umur (dalamtahun).Sebaiknyakitaberlatihsampaidenyutnadiantaradaridenyutnadimaksimal(idealnya 72-87%).Bilanganantara 70-85% denyutnadimaksimaldisebut target zone ataujonalatihan. Agar latihanadapengaruhnyaterhadapjantungdanperedarandarah, sebaiknyalatihandilakukanhinggamencapaizonalatihandanterusdiusahanaberadadalam zone itu paling sedikit 20-45 menit.Frekuensi paling sedikit 3 kali  dalamseminggu. Bagi yang kegemukan bias 5 – 6 kali seminggu

Pengertiankebugaranjasmanimenurut Prof. Sutarmanadalahsuatuaspekfisikdankebugaran yang menyeluruh (total fitness) yang memberikesanggupankepadaseseoranguntukmenjalankanhidup yang produktifdandapatmenyesuaikandiripadatiappembebananfisik (physical stress) yang layak.

Manfaatkebugaranjasmanibagitubuhantara lain. Manfaatkebugaran jasmanibagitubuhantara lain dapatmencegahberbagaipenyakitsepertijantung,pembuluhdarah, danparu-parusehinggameningkatkankualitashidupsecarakeseluruhan.Denganjasmani yang hugar, hidupmenjadisemangatdanmenyenangkan. Kebugaranjasmanitidakhanyamenggambarkankesehatan, tetapilebihmerupakancaramengukurindividumelakukankegiatannyasehari-hari.Ada 3 halpentingdalamkebugaranjasmani, yaitu :1. Fisik, berkenaandenganotot, tulang, danbagian lemak.2.Fungsi Organ, berkenaandenganefisiensisistemjantung, pembuluhdarah, danpernapasan (paru – paru).3.ResponOtot, berkenaandengankelenturan, kekuatan, kecapatan, dankelemahan.Berdasarkankonsepkebugaranjasmanitersebut, makakebugaranjasmaniyangdibutuhkanuntuksetiap orang sangatberbeda, tergantungdarisifattantanganfisik yang dihadapinya. Contohnya, seorangkuli yang setiapharibekerjamemanggulbarang-barangberat, makaiaharusmemilikikekuatanotot, anaerobic power, dayatahan, dansebagainya yang lebihbaikdaripadaseorangpekerjakantor. Pekerjakantortidakbanyakmengurastenaga, iahanyamembutuhkanbuku-bukudarimejakerakbukuataumenekantombol keyboard computer. Dengandemikiantingkatkebugaranjasmani yang merekanmilikidanmerekabutuhkansangatberbeda.Kerjafisikataupunlatihandalamjangkapendekmisalnyakurangdari 5 menit, belummutlakmemerlukanpembakarandenganterusberlangsungmelaluipembakarandenganoksigen.

Dengandemikian, jantung, peredarandarah, danparu-paru (alatpernapasan) harusgiatbekerjauntukmenyalurkanoksigenkebagian-bagiantubuhyang aktifbekerja.Jadi, gerakkerjaataupunlatihan yangcukup lamakerjajantung, peredarandarah, danparu-parusehinggadapatmenghasilkanperubahankearah yang lebihbaikdarikeadaandayatahantubuh.

  1. IV.   Alat Dan Bahan

No

Alat

Bahan

1

2

3

Stop Wacth

Perlengkapanalattulis

Lembar tes kebugaran

Manusia

(Praktikan)

  1. V.      Cara Kerja
    1. Menghitung BBI (BeratBadan Ideal) dengancaraperhitungan yang telahditentukan LKPD yang telahdiberikan.
    2. Menghitungdenyutnadisebelummelakukankegiatanselama 1 menit.
    3. Melakukanpemanasan ± 5menit.
    4. Melakukankegiatanolah raga berlariselama 10 menit!.
    5. Hitunglahberapadenyutnadi yang terjadisetelahberlaridalam 10menit!


 

  1. VI.   Data HasilPengamatan

Nama

Umur

(thn)

JK

(L/P)

BB

(Kg)

TB

(cm)

BBN

(Kg)

BBI

(Kg)

BMI

NadiPra

Nadi

pasca

TZ 72%-87%

TES KESEHATAN

Nama                                     : Anang Aria

JenisKelamin                          : Laki-laki

BeratBadan (BB)                   : 76 kg

TinggiBadan (TB)                  : 175 cm

Tensi                                      : 120/80

Denyutjantungpra                  : 87

Denyutjantungpasca              : 107

Beratbadan Normal (BBN)

TB(dalam cm) – 100

                           = 175-100

= 75

BeratBadan Ideal (BBI)

BBN – ( 10% x BBN)

  = 75-(10% x 75)

                            = 67,5

T-Zone (TZ)

 (220 – Usia) x 72% – 87 %

TZ Min=  (220 – Usia) x 72% = 143,28

TZ Max=  (220 – Usia) x 87% = 173,13

Indeks Massa Tubuh (BMI), (TB dalam Meter)

BMI = BB/TB2
=  76/1,752

                                                           = 24,84

Kategori

BMI (Kg/m2)

Resiko

Under weigh

< 18,5 kg/m2 Rendah (tetapiresikoterhadapmasalah – masalahklinis lain meningkat).

Batas normal

18,5 – 22,9 kg/m2 Rata-rata

Over weigh

≥ 23 kg/m2

At Risk

23,0 – 24,9 kg/m2

Meningkat

Obese I

25,0  – 29,0 kg/m2

Sedang

Obese II

≥ 30,0 kg/m2

 Berbahaya

VII.Pembahasan

Padapraktikumkali iniyaitupercobaantentang “TesKebugaran” yang manabahanpercobaannyaadalahkebugarantubuhsendiri.Sebelummelakukanteskebugaranpertama-tama kami mengisi data baikitunama, jeniskelamin, beratbadan, tinggibadan, tensi, denyutnadipradan yang terakhirdenyutnadipasca. Untukmenghitungdenyutnadipascaitudilakukansetelahmelakukankegiatanolah raga (lari) selama 10 menit.

Sebelummelakukanpercobaaninipertamamenimbangberatbadan, yangmanaalatpenimbangnyasudahdisediakanolehasistendilapangan.Setelahditimbangberatsayamencapai76 kg.setelahselesaidilanjutkanuntukmenghitungdenyutnadiPra. UntukmenghitungdenyutnadiPraselama 1 menitadaberapadenyutan, Denyutnadidihitungdenganmerabapergelangantanganmengunakanjaritelunjukdanjaritengah.Dalam 1 menitdenyutnadisayamencapai87denyutan.Padapercobaanteskebugaranini kami melakukanpemanasanselama 10 menit yang di bimbingolehteman kami dengangerakansenam.Setelahselesaipemanasan kami melakukankegiatanolah raga lariselama 10 menittujuanlariiniadalahuntukmengetahuidenyutnadipasca.Setelahmelakukanolahragalariselama 10 menit kami langsungmenghitungdenyutnadiPascaselama 1 menitadaberapadenyutan, Denyutnadidihitungdenganmerabapergelangantanganmengunakanjaritelunjukdanjaritengah. Dalam 1 menitpadadenyutnadipascaitumencapai 140 denyutan.Jadi saat sebelum melakukan olahraga frekuensi jantung hanya 87 denyutan setelah melakukan olahraga lari selama 10 menit frekuensi jantung meningkat menjadi 107 dalam 1 menit.

Setelah data didapatkan, selanjutnyamengitungBeratBadan Ideal (BBI), tetapisebelumitumengitung

Dengan melakukan olahraga lari kita dapat menentukan indeks kesanggupan badan sesorang dalam melakukan aktivitas otot. Melalui cara penghitungan yang telah dijelaskan diatas terlihat dengan jelas bahwa indeks massa tubuh sangat bergantung dari lamanya seseorang melakukan olahraga dan ferkuensi denyut jantung segera  setelah melakukan kegiatan tersebut.

Untuk nilai BMI yang telah diperhitungkan nilainya didapatkan 24,69 sehinga dalam katagori tabel pengamatan termasuk kedalam ketegori At Riskdengan resiko meningkat.

Setiap orang memerlukansejumlahlemaktubuhuntukmenyimpanenergi, sebagaipenyekatpanas, penyerapguncangandanfungsilainnya.Rata-rata wanitamemilikilemaktubuh yang lebihbanyakdibandingkanpria.Perbandingan yang normal antaralemaktubuhdenganberatbadanadalahsekitar 25-30% padawanitadan 18-23% padapria.Wanitadenganlemaktubuhlebihdari 30% danpriadenganlemaktubuhlebihdari 25% dianggapmengalamiobesitas.Seseorang yang memilikiberatbadan 20% lebihtinggidarinilaitengahkisaranberatbadannya yang normal dianggapmengalamiobesitas.

Karena ketika pasca olahraga selama 10 menit merasa kelelahan maka dapat dikatakan bahwa kondisi fisik saya tidak bugar dan memiliki resiko yang meningkat untuk hal kondisi kesehatannya, maka oleh sebab itu perlu menjaga kondisi tubuh dan berusaha selalu berolahraga yang teratur sehingga dapat mencapai kebugaran yang ideal atau normal.

 

  1. VIII.  Kesimpulan

 

Dari pembahasan yang telah kami uraikan tersebut dapat kami tarik kesimpulan bahwa :

  1. Untuk BeratBadan Ideal (BBI) itu di dapatakan hasilnya 70
  2. Denyut nadi sebelum kegiatan87 denyutan /menit dan setelah melakukan olahraga lari selama 10 menit frekuensi jantung meningkat sehingga denyut nadi menjadi 107/menit..
  3. Karena ketika pasca olahraga selama 10 menit merasa kelelahan maka dapat dikatakan tidak bugar
  4. Untuk nilai BMI yang telah diperhitungkan nilainya didapatkan 24,84 sehinga dalam katagori tabel pengamatan At Risk resiko meningkat sehingga perlu melakukan diet agar menjadi ideal (normal).

  1. IX.   Saran

Usahakan agar kita selalu melakukan olahraga secara teratur agar frekuensi jantung dan peredaran darah dapat normal serta dapat meningkatkan tingkat kebugaran jasmani kita.

DAFTAR PUSTAKA

Champbell, N.A,dkk.2002. “Biologi”.EdisilimaJilidsatu. Erlangga:Jakarta

http://mutiararosa15.blogspot.com/2011/01/laporan-individu-praktikum-biologi.html diakses: 20-05-2012

Jasin,Maskoeri.1989. “BiologiUmumUntukPerguruanTinggi”. BinaPustakatama:Surabaya

Krisdianto, dkk. 2005. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Banjarbaru: FMIPA Universitas Lambung Mangkurat.

Simbolon, Hubu, dkk. 1989. Biologi Jilid 3. Jakarta: Penerbit Erlangga.

downlod laporan kebugaran.doc

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN SIMULASI ESTIMASIPOPULASI HEWAN DENGAN METODE CMRR DI AREA WISATA TAMAN ALAM BUKIT TANGKILING

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI HEWAN

SIMULASI ESTIMASIPOPULASI  HEWAN

DENGAN METODE CMRR DI AREA WISATA  TAMAN ALAM BUKIT TANGKILING

 

Di Susun Oleh

ANANG ARIA

0901140132

Dosenpembimbing:

RITA SUKAESIH, S.Pd, M.Si

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI  TADRIS BIOLOGI

PALANGKA RAYA2012

  1. I.     TOPIK PRAKTIKUM

SimulasiEstimasiPopulasi Hewan dengan Metode CMRR

 

  1. II.  TUJUAN PRAKTIKUM

Tujuan kegiatan praktikum ini adalah dapatmemperkirakanpopulasibelalangdenganmenggunakan capture-mark-release-recapture (CMRR)

 

  1. III.             TEMPAT DAN WAKTU PRAKTIKUM

Tempat            : Area wisata Taman Alam Bukit Tangkiling

Hari/Tgl           : Sabtu-minggu (8-9 Desember 2012 M)

 

  1. IV.             DASAR TEORI

Populasi adalah suatu kelompok individual yang memiliki spesies yang sama dan mendiami suatu area diwaktu yang sama. Populasi sendiri mempunyai ciri khas yang menunjukkan identitasnya, misalnya kerapatan, natalitas, mortalitas, penyebaran umur potensi biotik, tebaran dan bentuk pertumbuhan. Sifatnya yang lain berhubungan dengan ekologi adalah sifat penyesuaian diri, keserasian reproduksi ketahanan yaitu peluang untuk pelestarian jenis.

Kerapatan populasi merupakan ukuran populasi dalam hubungannya dengan satuan ruang. Biasanya dinyatakan dengan banyaknya individu atau biomasa populasi persatuan luas atau volume. Untuk mengetahui jumlah individu suatu populasi hewan di suatu tempat tertentu ada berbagai cara penaksiran yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah menggunakan metode menangkap-menandai-melepas-menangkap ulang (CMRR). Metode ini umum diterapkan pada jenis-jenis hewan yang mobil.

Dua ahli ekologis bangsa Australia lainnya, ialah Andrewartha dan Brich bahwa proses yang tergantung pada kerapatan peranannya minor dan tidak berperan dalam penentuan-penentuan kemelimpahan beberapa spesies.

Penting membedakan secara jelas antara penentuan kemelimpahan adalah kecenderungan suatu populasi dan pengaturannya. Adapun pengaturan kemelimpahan adalah kecenderungan suatu populasi berkurang besarnya bila populasi melampaui suatu tingkatan khusus, tetapi bertambah besarnya bila ada di bawah tingkatan khusus itu. Pengaturan populasi hanya dapat terjadi sebagai akibat proses yang tergantung pada kerapatan misalnya kompetisi, pemangsaan dan parasitisme. Kemelimpahan ditentukan oleh gabungan pengaruh semua faktor serta semua proses mengenai, tergantung atau tidak tergantung pada kerapatan.

Seringkali lebih penting mengetahui apakah suatu spesies dalam populasui itu berubah (bertambah atau berkurang) daripada mengetahui besarnya pada suatu saat saja. Jadi penting adalah indeks kemelimpahan yang dapat nisbi dalam waktu, misalnya cacah burung yang dapat diamati per jam, atau persentase plot cuplikan yang dihuni oleh spesies hewan.

Perkiraan kerapatan terhadap suatu jenis makhluk hidup dalam hal ini hewan adalah lain sekali dengan yang dilakukan terhadap tumbuhan. Teknik yang dapat dipergunakan pada mamalia tidak dapat dipergunakan untuk zooplankton. Dua sifat dasar yang mempengaruhi pilihan atas teknik ialah ukuran besarnya dan mobilitas hewan dibandingkan dengan manusia.

 

 

 

 

  1. V.  ALAT DAN BAHAN

Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan saat praktikum

No

Alat dan Bahan

Jumlah

1

Jaring Insecta

1 buah

2

Spidol

1 buah

3

Penanda (Tipe-X)

1 buah

4

Kantong Plastik

Secukupnya

 

  1. VI.             PROSEDUR KERJA

1.      Menentukan lokasi pencuplikan belalang

2.      Membuat garis lurus dari satu ujung ke ujung yang lain dengan menggunakan tali rapia dengan ukuran 5M.

3.      Melakukan pencuplikkan pertama dengan menggunakan Insecta Net sambil berjalan pada garis yang telah dibuat, kemudian berbalik lagi sehingga sampai ketempat semula. Insect net digerak – gerakan dsecara zig – zag

4.      Melakukan pencuplikkan setiap 1  jam sebanyak 5 kali.

5.      Membuat data hasil pencuplikkan dalam bentuk tabel.

6.      Menghitung data hasil pencuplikkan dengan menggunakan metode Schneble

 

 


 

  1. VII.          DATA HASILPENGAMATAN

PRAKTIKUM I

CARTURE MARK RELEASE RECAPTURE (CMRR)

Tabel2. PengamatanHasilEstimasi
K ni Ri ∑hewanbertanda Mi ni .Mi N
1 20 0 20 0 0
2 12 9 3 20 240  
3 14 9 5 23 322  
4 11 8 3 28 308  
5 11 7 4 31 341  
Jumlah   33 35 102 1211         36,70
 
Keterangan:
N = Jumlahhewandalampopulasi
ni = Jumlahhewan yang ditangkappadaperiodeke-i
Ri = Jumlahhewan yang ditangkapkembalipadaperiodeke-i
Mi = Jumlah total hewan yang tertangkappadaperiodeke-i

 

 

Rumusdasar yang di gunakandalam MetodeSchnableadalah :

 

N =

N =

N = 36.70

 


  1. VIII.       PEMBAHASAN

Berdasarkan data hasil pengamatan pada praktikum dengan metode menangkap-menandai-menangkap ulang (CMRR) kali ini,  dimana hewan ditangkap dengan menggunakan  jaring serangga (Insecta net). Pada metode ini hewan ditangkap lalu diberi tanda dan dilepaskan dalam selang waktu yang singkat sehingga dianggap tidak terjadi penambahan spesies baru. Metode CMRR ini umumnya diterapkan pada jenis-jenis hewan yang bergerak bebas. Terlebih dahulu membuattransek yang berukuran 5 meter danmenangkapbelalangdenganmemakaiInsecNet dandilakukanpencuplikansebanyak 5 kali.

Pada proses  pencuplikkan yang dilakukan setiap selang waktu 1 jam, terdapat perbedaan jumlah belalang  yang didapatkan pada tiap tiap pencuplikkan, pada hasil yang di diperoleh pertama kami menangkap 20 ekor yang di tandai  belalang setelah selang waktu 1jam terjadi penurunan menjadi 12 ekor dan pada percobaan berikutnya terjadi peningkatan menjadi 14 ekor dan setelah itu kembali penurunan lagi menjadi 11 ekor dan percobaan terakhirpun sama yaitu mendapatkan jumlah 11 ekor juga.

Penurunan jumlah belalang yang didapatkan pada waktu kewaktu, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang meliputi komponen biotik dan juga komponen abiotik. Faktor suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya menjadi faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas belalang yang memang melakukan aktivitas secara aktif di padi dan sore hari saja.

Komponen – komponen ini memiliki peranan yang sangat penting dalam atktifitas belalang. Dilihat dari pencuplikkan yang dilakukan semakin berkurang jumlah belalang yang didapatkan. Intensistas cahaya dan suhu yang tinggi membuat aktifitas yang dilakukan belalang berkurang sehingga hanya sedikit jumlah belalang yang ditangkap khususnya  pencuplikkan yang ke 4 dan 5.

Setelah di temukan data seperti pada tabel data hasil pengamatan di atas bisa di hitung Jumlah poada di wilayah pencuplikan tersebut sekitar 36.70Individu.

 


 

  1. IX.         KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum Ini dapat di ambil kesimpulan bahwa jumlah populasi belalang yang terdapat di area pengamatan pada wisata Taman Alam adalah sekitar 36.70 Individu atau 37 Individu belalang.

Belalang merupakan jenis hewan yang aktif pada pagi dan sore hari sehingga pengamatan pada siang hari kurang efektif.

 

  1. X.           SARAN

Kepada praktikan, Lakukan pengamatan pada pagi atau sore hari agar mendapatkan belalang. Hati-hati ketika melakukan pencuplikan agar tidak membunuh belalang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2009. http://www.uky.edu/Ag/Entomology/ythfacts/4h/unit2/hotm&ult.htm Di unduh  tanggal 18 mei 2011.

Busnia, Munzir. 2006. Entomologi.Padang :UniversitasAndalas press.

Gatto, jonathan. 2009. http://www.designwarrior.net/light-trap-lamps-jonathan-gatto-and-mike-thompson/  Di unduh  tanggal 18 mei 2011.

http;// bima_CRMRR_laporan.blogspot.com//htm. 19/12/2012

Jumar. 2000. Entomologi. Jakarta :rinekacipta.

Michael, P. 1994. Metodeekologiuntukpenyelidikanladangdilaboratorium.Jakarta :Universitasindonesia press.

Sukaesih Rita, Petunjuk Praktikum Ekologi Hewan. Palangka Raya. 2012

kumpulan foto liburan

DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERA INDONESIA

nasionalis

nasionalis